Langsung ke konten utama

MERAWAT MASJID PERKUAT BASIS

by Rudy Adly
Masjid Al Falah Kencong
(Tampak dari alun-alun)
REVITALISASI FUNGSI MASJID DAN PEMBENTENGAN AQIDAH BAGI WARGA NAHDLIYYIN
by:ARM
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagaimana istilah yang sering kita ucap dan dengar, bahwa kata Masjid berasal dari bahasa arab, yaitu diambil dari kata “Sajada, Yasjudu, Sajdan”. Kata sajada yang berarti tempat bersujud, patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan ta’dzim. Untuk menunjukan suatu tempat, kata sajada dirubah bentuknya menjadi “masjudun” yang memiliki arti tempat sujud atau tempat menyembah Allah SWT. Dengan kata lain, bahwa masjid itu suatu tempat melakukan segala aktivitas manusia yang mencerminkan nilai-nilai kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Selain itu, masjid juga merupakan tempat orang berkumpul dan melakukan sholat secara berjama’ah, dengan tujuan untuk meningkatkan solidaritas dan silaturrahim di kalangan kaum muslimin (Gatot Susanta:2007)

Fungsi masjid yang paling utama adalah sebagai tempat melaksanakan ibadah sholat berjamaah. Akan tetapi, pada masa Rasulullah Saw, selain digunakan untuk beribadah masjid juga bisa digunakan untuk kepentingan sosial, yaitu sebagai tempat belajar (menuntut ilmu), merawat orang sakit, sebagai tempat pembinaan jamaah, sebagai pusat dakwah dan kebudayaan Islam, dan lain sebagainya. Untuk itu, kita sebagai umat muslim tidaklah pantas untuk meninggalkan kewajiban-kewajban yang semestinya untuk dilaksanakan agar kita tetap ingat kepada sang Maha Agung dengan selalu melaksanakan kewajiban seorang muslim yang sesungguhnya (Bachrun Rifa'i:2005).

Apabila kita melihat perkembangan kemasjidan pada saat ini, nyaris tidak diketemukan masjid yang reyot atapun dalam kondisi buruk. Bahkan di pelosok desapun tampak citra kemegahannya di banding pada masa-masa sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa masjid memang mengalami perkembangan dan kemajuan yang siginifikan. Hal inipun bisa dijadikan petunjuk bahwa masyarakat dalam hal ini umat Islam mengalami pergeseran ekonomi yang semakin membaik. Boleh, jika hari ini kita berbangga diri dengan keadaan ini. Namun, apakah indikasi ini jadi satu-satunya wujud keberhasilan syiar Islam ? Tentu saja bukan. Keberhasilan dalam syiar Islam tidak hanya sebatas besar dan megahnya masjid ataupun angka tumbuh-kembangnya secara kuantitatif, akan tetapi perkembangan pada aspek kualitatifpun sangat penting untuk diperhatikan. Karena sesungguhnya, hal inilah yang menjadi ruh masjid dalam segala aspek fungsi dan hakikat keutamaannya. 

Sadar, bahwa dibalik besar dan megahnya masjid di sana-sana sini, ternyata masih banyak ditemukan sisi hampa pada ranah fungsi dan manajamennya. Bagus infrastrukturnya, kering remaja masjidnya. Kaya akan aset dan sumber dananya, lemah pada manajemennya. Bagus dalam manajemennya namun lemah dalam membentengi aqidah jamaahnya. Bahkan ada lebih dari itu semua karena minim SDM dan kepedulian masyarakatnya. Inilah yang menjadi celah dimanfaatkan oleh kelompok lain sebagai lahan ekspansi misi dan gerakannya.


Pengurus LTMNU Cabang Kencong saat silaturrahmi ke dalem
ketua MWCNU Umbulsari, red
PCNU Kencong dalam hal ini Lembaga Takmir Masjid  Nahdatul Ulama' yang merupakan kepanjangan tangan dari pengurus NU sebagai pelaksana program kerja yang bertujuan menjaga dan membantu memakmurkan masjid dari segala aspek yang notabenenya sebagai masjid warga NU.

PCNU Kencong juga memiliki peran dan tanggungjawab dalam memelihara dan mengamalkan syariat Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyyah. Hal ini bertujuan untuk melindungi jamaah dari pengaruh Islam radikal yang kian membahayakan. Biar bagaimanapun juga yang namanya Islam fundamentalis ataupun garis keras (ekstrimis), zona pergerakannya lebih dominan pada basis kemasjidan. Jika kita tidak giat dalam menangkal hal ini, dikhawatirkan masjid-masjid NU berikut jamaahnya akan larut dan dikuasai oleh kelompok tersebut.

Sebagai tahap awal dalam running progress ini, PC. LTMNU Kencong mengadakan program pendataan dan inventarisir masjid beserta aset yang dimiliki sekaligus restrukturisasi LTM  dari MWC hingga ranting dan kelompok anak ranting (KAR). Dua Minggu yang lalu tim pengembang kemasjidan LTMNU Kencong mengadakan sowan ke MMCNU se Cabang Kencong guna taaruf dalam skala pengurus baru sekaligus menggali informasi seputar kemasjidan sebagai bahan pemetaan dan identifikasi masalah. Dalam forum itu pula pengurus LTMNU cabang Kencong yang dalam hal ini dikomandani oleh bapak Drs. Ach. Syaikhu, M.Pd.I selaku ketua sekaligus dosen senior d Institut Agama Islam Al Falah Assunniyyah Kencong (INAIFAS), menyampaikan permohonan rekomendasi kepada jajaran pengurus MWCNU berupa penunjukan dua orang pengurus ranting yang berbasis kemasjidan untuk dijadikan Koordinator Wilayah Kerja Kemasjidan NU (Korwilkermas NU) dalam struktur kepengurusan LTMNU Cabang Kencong. Dua tenanga ini selain sebagai koordinator wilayah kecamatan atau MWC juga bertugas menginput data kemasjidan di wilayahnya. Disamping itu, juga memiliki tugas pendampingan dalam baik dalam proses pembentukan LTMNU di tingkat ranting maupun dalam mengontrol aktitifitas kinerjanya.


Suasana perkuliahan mahasiswa
Madin dan Ekstensi INAIFAS
Untuk mengoptimalisasi proses pemetaan masjid, pengurus dalam hal ini juga memanfaatkan kapasitas dan peran serta mahasiswa INAIFAS dalam menggali data kemasjidan. Hal ini sangat beralasan, bukan hanya karena semata-mata tugas akhir semester dalam perkuliahan, namun mahasiswa yang notabenenya agent of change and social control wajib turun ke masyarakat sebagai wujud pengabdian. Sehingga mereka mampu menganalisa dan memberi solusi terbaik terhadap masalah-masalah yang timbul di tengah masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kemasjidan. 

Meskipun program ini dikatakan perdana, namun dipandang perlu dan nyata mendapat perhatian khusus terutama dari para Kyai dan pengurus PCNU Kencong dalam rangka membangun sistem dan simpul-simpul pertahanan ideologi dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah pada masyarakat yang berbasis kemasjidan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi petunjuk, rahmat, dan ridloNya kepada kita semua sehingga tetap istiqamah dalam berjuang. Aamiin.

Untuk link pengisian tugas pemetaan silahkan diklik dibawah ini:

Untuk Ekstensi KLIK DISINI YAAA
Untuk Madin KLIK TENG NGRIKI







Komentar

  1. Semoga diberikan kelancaran oleh Allah SWT

    BalasHapus
  2. MUKHLASIN. .
    Masjid merupakan rumah Allah SWT.
    Kita sebagai seorang muslim harus memakmurkan masjid.
    Adapun memakmurkan masjid itu ada 2 (dua) bagian.
    Pertama : membangun masjid, memperindah dan memperkokoh bangunannya.
    Kedua : melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT dengan cara beribadah dan berdzikir kepada-Nya didalam masjid .

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. M. Hermanto
    Masjid adalah pasar akhirat, tempat bertransaksinya seorang hamba dengan Allah. Di mana Allah telah menawarkan balasan surga dan berbagai kenikmatan di dalamnya bagi mereka yang sukses dalam transaksinya dengan Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hubungan dengan Allah kok 'transaksi', adegengah be'en cong....

      Hapus

  5. سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

    BalasHapus
  6. ADAM GIO AMALIANO

    MASJID menurut saya adalah tempat utama peribadahan orang islam yang mana biasanya jugq di kenal sebagai baitulloh bahkan masjid pada zaman rosululloh itu . Masjid sebagai pusat atau balai utama kegiatan umat islam.

    BalasHapus
  7. Luar biasa, kolom ini disamping sebagai jejak tanggapan ilmiah tentang kemasjidan, juga digunakan sebagai bukti, bahwa mahasiswa tugas telah mengirimkan data otentik tentang kemasjidan...

    BalasHapus
  8. masjd selain digunakansebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupam komunitas muslim sepertihalnya perayaan hari besar diskusi dan juga kajian agama.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH PERANG DIPONEGORO (1825-1830)

BERAKHIRNYA PERANG JAWA: DIPONEGORO DITANGKAP SECARA LICIK Lukisan Ilustrasi Penangkapan Pangeran Diponegoro (Sumber: Galeri Mataram) Oleh: Akhmad Rudi Masrukhin Tanggal 28 Maret 1830 adalah hari bersejarah dalam babak perjalanan Bangsa Indonesia. Pada hari itu, Pangeran Diponegero ditangkap Belanda secara licik. Peter Carey dalam bukunya, "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)" yang diterbitkan oleh Kompas Media Nusantara, menggambarkan penangkapan itu sebagai peristiwa yang sudah disiapkan sangat matang. Pada hari yang ditunggu-tunggu itu, 28 Maret 1830, pengawalan di kediaman residen ditingkatkan dua kali lipat dari yang biasa. Agar tidak menimbulkan rasa curiga, penangkapan sengaja dilakukan pada hari Minggu, saat semua serdadu berparade dalam seragam lengkap. Atas perintah De Kock, detasemen pasukan berkuda ke-7 dikirim ke Bedono di perbatasan Kedu-Semarang untuk menanti mengawal Pangeran ke Semarang (De Kock,'verslag', 1830). Sementara itu, kereta ku...

Strategi Mengatasi Anak Berkesulitan Belajar

STRATEGI MENGATASI KESULITAN BELAJAR Akhmmad Rudi Masrukhin, M.Pd.  Strategi menanggulangi kesulitan belajar merupakan bagian dari tugas dan profesionalisme seorang pendidik. Seorang siswa tidak bisa dibiarkan begitu saja dalam menghadapi kesulitan belajar. Padahal anak yang mempunyai tipologi seperti inilah yang sesungguhnya memerlukan prioritas utama dalam pembelajaran. Kenakalan seorang anak atau siswa di sekolah tidak dapat diukur dari faktor hereditas (pembawaan), namun lebih lanjutnya pendidik harus mampu menganalisa lebih jauh serta mendiagnosis gejala yang terjadi dalam diri si anak tersebut.  Menurut Zakiyah Darajat: “Sekolah adalah lingkungan kedua tempat anak-anak berlatih dan menumbuhkan kepribadiannya”. [1] Jadi sekolah bukanlah sekedar tempat untuk menuangkan ilmu tetapi sekolah juga harus mendidik dan membina kepribadian si anak, di samping memberikan pengetahuann kepadanya. Karena itu, kewajiban sekolah pula untuk ikut membimbing si anak dal...