STRATEGI MENGATASI KESULITAN BELAJAR
Akhmmad Rudi Masrukhin, M.Pd.
Strategi
menanggulangi kesulitan belajar merupakan bagian dari tugas dan profesionalisme
seorang pendidik. Seorang siswa tidak bisa dibiarkan begitu saja dalam
menghadapi kesulitan belajar. Padahal anak yang mempunyai tipologi seperti
inilah yang sesungguhnya memerlukan prioritas utama dalam pembelajaran.
Kenakalan seorang anak atau siswa di sekolah tidak dapat diukur dari faktor hereditas
(pembawaan), namun lebih lanjutnya pendidik harus mampu menganalisa lebih jauh
serta mendiagnosis gejala yang terjadi dalam diri si anak tersebut.
Menurut Zakiyah Darajat: “Sekolah adalah lingkungan
kedua tempat anak-anak berlatih dan menumbuhkan kepribadiannya”.[1]
Jadi sekolah bukanlah sekedar tempat untuk menuangkan ilmu tetapi sekolah juga
harus mendidik dan membina kepribadian si anak, di samping memberikan
pengetahuann kepadanya. Karena itu, kewajiban sekolah pula untuk ikut
membimbing si anak dalam menyelesaikan dan menghadapi kesukaran-kesukaran dalam
hidup.
Maka dari itu untuk mengetahui tingkat kesulitan anak
atau siswa dalam belajar maupun berinteraksi dengan lingkungannya di perlukan
observasi terpadu serta mengadakan diagnosis.
Menurut Thorndike dan Hagen sebagaimana dikutip oleh
Abin Syamsudin Makmun diagnosis dapat diartikan sebagai:
1.
Upaya atau proses menemukan kelemahan
atau penyakit (weakness, disease) apa yang dilalami seseorang dengan
melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symptons);
2.
Studi yang seksama terhadap
fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan
dan sebagainya yang esensial;
3.
Keputusan yang dicapai
setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala ata fakta tentang
suatu hal.[2]
Berangkat dari definisi diats maka Abdul Aziz
Asy-Syakhs mengemukakan tahapan-tahapan yang diperlukan dalam mendiagnosa
ketertinggalan belajar sebagai berikut: (1) aspek sosial, (2) pengujian secara
medis, (3) pembandingan daya pikir, (4) pembandingan psikologis, (5) pencapaian
akademis, (6) pengujian secara klinis, (7) prospek kondisi yang akan datang,
(8) penetapan kurikulum yang diberlakukan, (9) pelaksanaan kurikulum.”[3]
Sedangkan Menurut Muhibbin Syah ada beberapa tahapan
yang perlu dilakukan dalam mengatasi kesulitan belajar, yaitu: (1) analisis
hasil diagnosis, (2) mengidentifikasi dan menentukan kecakapan bidang masalah,
(3) menyusun program pengajaran remedial (remedial teaching), (4)
melaksanakan program perbaikan.[4]
Dari beberapa paparan di atas mengenai fase-fase diagnosa,
maka perlu diketahui bentuk-bentuk kesulitan belajar siswa yang dapat digolongkan
menjadi dua macam:
1.
Kesulitan Belajar Siswa
yang Bersifat Umum
Yang dimaksud umum disini menurut Muhibbin Syah
adalah: “Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari
menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya”.[5]
a.
Internal Siswa
Ialah faktor yang muncul dari dalam siswa, meliputi gangguan atau
kekurang mampuan psiko-fisik siswa, yakni:
1)
Ranah Kognitif
Hal ini dapat di ketahui dari rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi
siswa.
Menurut Wienman sebagaimana dikutip oleh Mulyono
Abdurrahman kognisi adalah “fungsi mental yang meliputi persepsi, pikiran,
simbol, penalaran, dan pemecahan masalah.
perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalam
menggunakan bahasa dan intelektual”.
Sedangkan Singgih D. Gunarsa sebagaimana dikutip oleh
Mulyono pula berpendapat bahwa “kognisi mencakup aspek-aspek strukur
intelek yang dipergunakan untuk
mengetahui sesuatu”. [6]
Anak berkesulitan belajar sering tidak mengikuti pola
perkembangan kognitif, padahal kurikulum di sekolah biasanya didasarkan atas
pola perkembangan kognitif tersebut. Akibatnya, anak berkesulitan belajar tidak
mampu menyelesaikan tugas-tugas kognitif yang dituntut di sekolah. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan anak menyelesaikan tugas-tugas kognitif
terkait dengan gaya kognitif.
Hallahan, Kauffman, dan Llyod sebagaimana dikutip
Mulyono membagi dua dimensi gaya kognitif yang memperoleh perhatian paling
besar dalam kesulitan belajar, yaitu dimensi gaya kognitif ketidakterikatan –
terikatan pada lingkungan (field independence - dependence) dan dimensi gaya dimensi
kognitif refleksitas-impulsivitas (reflectivity impulsivity).
Gaya kognitif ketidakterikatan – terikatan adalah
kemampuan anak atau seseorang untuk membebaskan diri dari pengaruh lingkungan
pada saat membuat keputusan tentang tugas-tugas perseptual (penalaran).
Seorang anak pada saat menghadapi tugas-tugas perseptual banyak dipengaruhi
oleh lingkungan disebut “field dependence” (terikat pada lingkungan),
sedangkan sebaliknya apabila seseorang tidak terikat oleh lingkungan disebut “field
independence” (tidak terikat pada lingkungan).
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa anak yang
mempunyai tipe field dependence mudah sekali terkecoh oleh informasi
yang meneyesatkan sehingga persepsimya tidak akurat. Sebaliknaya anak yang
bertipe field independence mudah sekali memfokuskan pada sebagian besar
data perseptual. Salah satu cara mendiagnosis gejala masing-masing dapat
di gunakan cara seorang anak diminta membuat garis sejajar vertikal pada
trapesium sama sisi. Apabila si anak membuat garis sejajar dengan sisi
traepsium maka diduga anak tersebut terpengaruh oleh lingkunagan dan seringkali
tertinggal dalam belajar. Sebaliknya apabila seorang anak membuat garis yang
tidak sejajar dengan sisi trapesium maka anak tersebut tidak terpengaruh
lingkungan dalam artian anak tersebut berfikir secara lateral (penuh
alternatif). [7]
Adapun cara menaggulangi kasus seperti ini anak yang
tergolong field dependence dilatih menggunakan strategi sebagaimana digunakan
anak field independence.
Anak juga dapat diklasifikasikan dalam gaya kognitif
reflektifitas (tindakan atau tanggapan yang dilakukan secara spontan/diluar
kemauan karena rangsangan) dan gaya impulsifitas (tindakan atau tanggapan yang
didasarkan atas kemauan hati/pikiran). Anak berkesulitan kebanyakan memiliki
gaya kognitif yang lebih impulsif. Karenanya maka timbul problema bukan hanya
akademik tetapi juga penyimpangan
perilaku. Maka dari itu anak tersebut perlu memperoleh latihan untuk merespon
suatu persoalan dengan waktu yang cukup dan cara hati-hati.[8]
Permasalahan di atas sesungguhnya bersumber pada
kesulitan dalam mememori, sehingga muncul ungkapan dari para guru “masuk
telinga kanan keluar telinga kiri”.
a)
Strategi Pengembangan Memori
Ada dua macam memori yaitu: memori jangka panjang dan
memori jangka pendek. Memori jangka panjang akan terjadi jika ada pengulangan
atau penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan memori jangka pendek
dapat diukur dengan menyuruh anak mengamati obyek-obyek visual atau auditif
dalam waktu singkat, misalnya 20 detik, dan selanjutnya anak diminta untuk
mengingat kembali. Berdasarkan penelitian Hallahan, Kauffman, dan Llyod
menyimpulkan bahwa:
(1)
Anak berkesulitan belajar
memperlihatkan kesulitan yang lebih besar dalam tugas-tugas memori bila
dibandingkan dengan anak yang tidak berkesulitan belajar;
(2)
Problema memori anak berkesulitan
belajar dapat dikaitkan dengan kegagalan dalam menggunakan strategi tertentu
yang biasa di gunakan oleh anak yang tidak berkesulitan belajar;
(3)
Strategi yang digunakan oleh anak
yang tidak berkesulitan belajar dapat diajarkan kepada anak berkesulitan
belajar.
b)
Strategi Pengembangan Ketrampilan
Metakognitif
Menurut Martin A. Simon sebagaiman di kutip oleh
Mulyono Abdurrahman ketrampilan metakognitif merupakan pengetahuan
tentang proses kognitif sendiri dan kemampuan menggunakan proses tersbut.
Anak berkesulitan belajar umumnya memiliki
metakognitif yang rendah. Hallahan, Kauffman, dan Llyod, merinci adanya metamemori,
metalistening, metacomprehension. Metamemori berkenaan dengan pengetahuan
tentang proses memorinya sendiri dan penggunaan. Metalistening berkenaan dengan
pengetahuan tentang proses proses mendengarkan, memperhatikan pembicaraan yang
disampaikan oleh orang lain kepadanya. Sedangkan metacomprehension berkenaan
dengan pengetahuan seseorang tentang proses memahami bacaan yang dilakukannya
sendiri.
Adapun strategi memecahkan masalah memori sehinngga ketrampilan
metamemorinya berkembang melalui pnggunaan “jembatan keledai” atau
pengorganisasian materi pelajaran yang perlu dihafal hendaknya secara langsung
diajarkan kepada anak berkesulitan belajar.
Anak-anak
berkesulitan belajar juga sering memperlihatkan kekurangan dalam mendengarkan
atau kekurangan dalam ketrampilan metalistening, fenomena yang sering
muncul di sekolah diantaranya anak yang berkesulitan belajar sering dianggap
oleh guru atau teman-temannaya sebagai anakyang ngawur, artinya menjawab
tanpa mempertimbangkan kelengkapan informasi. Anak yang demikian perlu
dibimbing agar mereka berupaya mengumpulkan informasi yang cukup sebelum
menjawab suatu permasalahan.
Lain halnya dengan anak berkesulitan belajar karena
kurang adanya ketrampilan metacomprehension, Hallahan, Kauffman, Llyod
mengemukakan suatu strategi sebagai berikut:
(1)
Menjelaskan tujuan membaca
(2)
Memusatkan perhatian pada bagian
bagian penting bacaan
(3)
Memantau taraf pemahamannya
sendiri
(4)
Membaca ulang dan membaca cepat
lebih dahulu
(5)
Menggunakan kamus atau ensiklopedi
Pengembangan ketrampilan
metakognitif juga dapat dilakukan melalui strategi pembelajaran kooperatif.
2)
Ranah Afektif
Dalam hal ini meliputi gangguan seperti labilnya emosi
dan sikap.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia emosi adalah:
“luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan dan
reaksi psikologis dan fisiologi (seperti kegembiran,. Kesedihan, keharuan,
kecintaan)[9],
sedangkan sikap berarti: “ perbuatan dsb yang berdasarkan pendirian,
keyakinan”.[10]
Munawir Yusuf et. al. memaparkan bahwa tidak
ada definisi yang baku mengenai kesulitan belajar karena gangguan emosi atau
perilaku/sikap (afektif). Tetapi menurut Hallahan dan Kauffman Menggambarkan
adanya 4 dimensi sebagai berikut:
a)
Anak yang mengalami gangguan
perilaku, ciri-cirinya suka berkelahi, memukul, menyerang, bersifat
pemarah, tidak penurut/melawan peraturan, suka merusak (mlik sendiri atau orang
lain), kasar, tidak sopan, tidak mau kerjasama, penentang, kurang perhatian
pada orang lain, suka mengagagu/usil, suka mengancam, atau mnggertak, iri hati,
cemburu, tidak bertanggung jawab, suka bertengkar, ceroboh, mencuri, menolak
kesalahan, dan menyalahkan orang lain, murung, cemberut, memntingkan diri
sendiri.
b)
Anak yang mengalami kecemasan
dan menyendiri, ciri-cirinya adalah tegang, rasa takut bersalah, cemas,
pemalu, menyendiri, mengasingkan diri, tidak punya teman, perasaan tertekan,
sedih, sensitif, mudah merasa disakiti hatinya, merasa rendah diri, merasa
tidak berharga, mudah frustasi, kurang keyakinan, pendiam.
c)
Anak yang agresif sosial,
ciri-cirinya adalah memiliki perkumpulan yang tidak baik, berani mencuri, loyal
terhadap teman yang melanggar hukum, suka bergadang samapai larut malam,
melarikan diri dari sekolah, melarikan diri dari rumah.
d)
Individu yang tidak pernah
dewasa, dengan melihat gejala diatas maka strategi bagi pendidik seharusnya
dapat melakukan identifikasi dan mendiagnosis kemudian memberikan layanan yang
sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak sehingga mereka tidak berkesulitan
belajar.[11]
3)
Ranah Psikomotorik
Yaitu kesulitan belajar yang disebabkan karena
gangguan pada indra penglihat dan pendengar.[12]
a)
Gangguan Penglihatan
Menurut Munawir Yusuf et.al.
seseorang disebut buta jika tingkat efisiensi penglihatan 20,0% atau lebih
kecil. Jika tingkat efisiensi lebih besar dari 20,0% keatas belum dikatakan
buta.
Snellen
melukiskan sebagai berikut:
No.
|
Tingkat Ketajaman
|
Tingkat Efisiensi
|
1.
|
20/20 f
|
Efisiensi = 100
|
2.
|
20/35 f
|
Efisiensi = 87,5 %
|
3.
|
20/70 f
|
Efisiensi = 64,5 %
|
4.
|
20/100 f
|
Efisiensi = 48,8 %
|
5.
|
20/200 f
|
Efisiensi = 20,0 %
|
Untuk
mengenal apakah anak mengalami gangguan penglihatan, dapat dilihat dari
ciri-ciri fisik, perilaku maupun keluhan sebagai berikut:
(1)
Ciri fisik
seperti mata juling, sering berkedip, mengernyitkan mata, kelopak mata
merah, mata infeksi, gerakan mata tidak beraturan (goyang), mata selalu berair;
(2)
Ciri keluhan
seperti membaca terlalu dekat, membaca banyak terlewati, cepat lelah
ketika membaca/ menulis, sering menggerakkan mata ketika melihat papan tulis,
sering mengusap mata, mendongakkan kepala saat melihat benda jarak jauh,
cenderung melihat dengan memiringkan kepala, berjalan sering menabrak benda di
depannya, salah menyalin dalam jarak dekat, dan sebagainya.
(3)
Ciri perilaku
seperti merasa sakit kepala, sulit melihat dengan jelas dari jarak jauh,
penglihatan terasa kabur ketika membaca/menulis, benda terlihat seerti dua
buah, mata sering gatal.
Bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan sangat
serius (kebutaan) maka alternatifnya harus mengikuti pendidikan khusus atau
Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sini mereka tidak lagi menggunakan huruf biasa
tetapi menggunakan huruf braille.
Guru harus mengenal anak yang mengalami gangguan
penglihatan sejak dini agar terlayani secara optimum, baik secara medis, sosial
psikologis, maupun pendidikan serta guru perlu menjalin kerja sama yang baik
dengan orang tua dan ahli yang relevan.[13]
b)
Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kerusakan
fungsi dari sebagian atau seluruh alat atau organ-organ pendengaran, dapat di
ketahui dengan menggunakan alat ukur tertentu yang disebut audio meter.
Organisasi Standar dunia menetapkan bahwa gangguan
pendengaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(1)
Sangat ringan = 27 – 40 db
(2)
Ringan = 41 – 55 db
(3)
Sedang = 56 – 70 db
(4)
Berat = 71 – 90 db
(5)
Berat sekali = 91 db ke atas
Anak dengan gangguan pendengaran harus mendapatkan
perhatian khusus karena dapat menyebabkan terjadinya kesulitan belajar.[14]
b.
Eksternal Siswa
Menurut Muhibbin Syah faktor ekstern siswa adalah
semua situasi dan kondisi yang mendukung aktifitas belajar siswa. Faktor ini
dibagi tiga macam:
1)
Lingkungan Keluarga
Penyebabnya segala sesuatu yang menyangkut dinamika
keluarga,[15]sehinggga pananganan dalam
masalah ini bersumber pada kondisi keluarga itu sendiri. Dalam artian
penyelesaiannya adalah langkah terbalik dari penyebab kesulitan belajar
dari faktor keluarga.
2)
Lingkungan Masyarakat
Menurut Muhibbin Syah hal ini disebabkan karena
wilayah perkampungan yang kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer
group) yang nakal.[16]Maka
dalam kondisi seperti ini si anak sangat rentan sekali akan kecenderungan
berperilaku menyimpang.
Di samping itu, karena keterdesakan kebutuhan serta
ekonomi yang relatif rendah, dimungkinkan bisa memancing tindak kejahatan anak.
Tapi hal ini bisa diantisipasi sedini mungkin melalui bekal pendidikan agama serta penanaman
nilai-nilai kemanusiaan kepada anak.
Hal senada juga ditegaskan oleh Zakiyah Darajat bahwa
hal tersebut bisa di tanggulangi secara dini dari rumah tangga yakni melalui
penanaman jiwa agama kepada si anak dengan jalan membiasakan si anak kepada
sifat-sifat dan kebiasaan yang baik, misalnya dibiasakan menghargai hak milik
orang lain, di biasakan berkata terus terang, benar, jujur, diajari mengatasi
kesukaran yang ringan dengan tenang, diperlakukan adil dan baik diajar suka
menolong, mau memafkan keslahan orang, ditanamkan rasa kasih sayang sesama
saudara dan sebagainya.[17]
3)
Lingkungan Sekolah
Sebagaimana disampaikan di depan
bahwa sekolah adalah lingkungan kedua
tempat anak-anak berlatih dan menumbuh kembangkan kepribaduannya[18]
Sebenarnya tugas sekolah dalam
menciptakan mental yang sehat bagi anak-anak, adalah tidak ringan, guru harus
dapat menjamin kebutuhan-kebutuhan jiwa si anak. apabila ada anak yang terlihat
bodoh, pemalas, suka mengganggu temannya, tidak mau tunduk pada
peraturan-peraturan sekolah dan sebagainya, janganlah dimarahi atau dihukum,
tetapi usahaknlah memahaminya dan menolongnya untuk menyesuaikan diri, serta
menyelidiki apa yang terjadi di rumahnya.[19]
Menurut Muhibbin Syah lingkungan
sekolah yang dapat menyebabkan kesulitan belajar diantaranya: kondisi dan letak
gedung yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar
yang berkualits rendah. [20]
Dalam hal ini di perlukan peran
serta dari berbagai pihak disamping pihak sekolah , komite sekolah orang tua
siswapun berhak untuk menciptakan
suasana yang kondusif dan nyaman dalam proses belajar mengajar.
2.
Kesulitan Belajar Siswa
yang Bersifat Khusus
a.
Disleksia
Menurut Hallahan, Kauffman, dan
Llyod sebagaimana dikutip oleh Mulyono Abdurrahman bahwa perkataan disleksia
berasal dari bahasa Yunani yang artinya “kesulitan membaca” dan nama-nama lain
yang menunjuk kesulitan belajar membaca, yaitu corrective readers dan remedial
readers. Sedangkan kesulitan belajar membaca yang berat disebut alesia.[21]
Definisi mengenai kesulitan
belajar membaca atau disleksia sangat bervariasi tetapi semua menunjuk
kemungkinan adanya gangguan pada fungsi otak. ada empat kelompok karaktristik
kesulitan membaca, yaitu yang berkenaan dengan 1) kebiasaan membaca 2)
kekeliruan mengenal kata 3) kekeliruan dalam pemahaman, dan 4) adanya
gejala-gejala serbaneka.
Asesmen kesulitan belajar
membaca dapat dilakukan melalui instrumen formal dan informal. Instrumen formal
digunakan sebagai landasan dalam pengajaran remedial. Sedangkan asesmen
informal dapat di gunakan untk mengidentifikasi adanya berbagai kesalahan
membaca lesan dan membaca pemahaman.[22]
Dalam mempersiapkan anak untuk membaca harus
dimulai sejak bayi dilahirkan. Ada lima tahapan dalam membaca, yaitu: 1)
kesiapan membaca, 2) membaca permulaan, 3) ketrampilan membaca cepat. 4)
membaca luas, dan 5) membaca sesungguhnya[23]
Ada dua kelompok metode pengajaran membaca, yaitu
untuk anak pada umumnya dan untuk remedial. Metode pengajaran anak pada umumnya antara lain berupa metode:
1)
Membaca Dasar
Menurut Lerner sebagaimana dikutip Mulyono Abdurrahman, metode mambaca
dasar pada umumnya menggunakan pendekatan eklektik (memiilih yang terbaik dari
berbagai sumber) yang menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan
kesiapan. Perbendaharaan kata, mengenal kata, pemahaman, dan kesenangan. Metode
ini biasanya digunakan secara bersinambung, dari kelas satu hingga kelas enam
SD.
2)
Metode Fonik
Metode fonik menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan
bunyi huruf. Biasanya mengaitkan huruf-huruf tersebut dengan huruf depan
berbagai nama benda yang sudah dikenal anak seperti huruf a dengan gambar ayam,
b dengan gambar buku, dan lain sebagainya.metode ini lebih sintetis (perpaduan
antara berbagai pengertian yang menjadi satu kesatuan yang selaras)daripada
analitik (menurut pada hal yang telah ditentukan)
3)
Metode Linguistik
Metode linguistik didasarkan atas pandangan bahwa membaca pada dasarnya
adalah proses memecahkan kode atau sandi yang berbentuk tulisan menjadi bunyi
yang sesuai dengan percakapan. Metode ini menyajikan kepada anak suatu bentuk
kata-kata yang terdiri dari konsonan – vokal atau konsonan – vokal – konsonan
seperti “bapak”, “lampu” dan sebagainya. Dengan demikian, metode ini lebih
analitik dari pada sintetik.
4)
Metode SAS (Struktural Analitik
Sintetik)
Metode ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara metode fonik dan
linguistik. Metode SAS didasarkan atas asumsi bahwa pengamatan anak mulai dari
keseluruhan (gestalt) dan kemudian ke bagian-bagian. Oleh karena itu, anak
diajak memecahkan kode tuilisan kalimat pendek yang dianggap unit bahasa utuh,
selanjutnya diajak menganilisis menjadi kata, suku kata, kata, dan huruf;
kemudian mensintesiskan kembali menjadi dari huruf ke suku kata, kata, dan
akhirnya kembali menjadi kalimat. Metode ini digunakan secara luas di
Indonesia.
5)
Metode Alfabetik
Metode ini menggunakan dua langkah, yaitu memperkenalkan kepada anak-anak
berbagai huruf alfabetik dan kemudian merangkaikan huruf-huruf tersebut menjadi
suku kata, kata, dan kalimat. Metode ini sering menimbulkan kesulitan bagi anak
berkesulitan belajar. Anak berkesulitan belajar sering menjadi bingung mengapa tulisan “bapak” tidak dibaca
“beapeka”.
6)
Metode Pengalaman Bahasa
Metode ini terintegrasi dengan perkembangan anak dalam ketrampilan
mendengarkan, bercakap-cakap, dan menulis. Bahan bacaan didasarkan atas pengalaman
anak. Metode ini didasaarkan atas pandangan:
(a)
apa yang dapat saya pikirkan,
dapat saya katakan.
(b)
Apa yang dapat saya katakan, dapat
saya tulis
(c)
Apa yang dapat saya tulis, dapat
saya baca
(d)
Saya dapat membaca yang
ditulis oleh orang lain untuk saya baca
Diantara metode pengajaran membaca bagi anak
berkesulitan belajar (remedial) diantaranya melalui pendekatan:
1)
Pendekatan Mullti Sensori
Dalam pendekatan ini muncul sebuah asumsi bahwa anak akan dapat belajar
dengan baik jika materi pengajarannya disajikan dalam berbagai modalitas. Di
antara modalitas sekaligus sebagai metode pendekatan multisensori adalah Visual
(penglihatan), tactile (perabaan) dengan adanya kegiatan menelusuri, kinestetik
(gerakan) yakni menulis, dan auditory (pendengaran).
a)
Metode Fernald
Metode ini di kembangkan oleh Fernald, dimana anak dilatih membaca secara
utuh yang dipilih dari cerita yang dibuat oleh anak sendiri. Dengan demikian,
tidak ada kegiatan memperkenalkan nama huruf atau bunyi secara individual.[24]
b)
Metode Gillingham
Menurut Mulyono metode ini merupakan pendekatan terstruktur taraf tinggi
yang mmerlukan limajam pelajaran selama dua tahun. Aktifitas pertama diarahkan
pada belajar berbagai bunyi huruf dan perpaduan huruf-huruf tersebut.[25]
Munawir Yusuf merumuskan secara umum langkah pengajarannya adalah:
(1)
Kartu huruf ditunjukkan kepada
anak, Guru mengucapkan nama hurufnya, anak mengulangi berkali-kali. Jika sudah
dikuasai, guru menyebutkan bunyinya, anak mengulanginya. Akhirnya guru
bertanya, “Apa bunyi huruf ini ?”
(2)
Tanpa menunjukkan kartu huruf,
guru mengucapkan bunyi sambil bertanya, “Huruf apakah yang menghasilkan bunyi
ini?”
(3)
Secara pelan-pelan guru menuliskan
huruf dan menjelaskan bentuknya. Anak menelusuri huruf dengan jarinya,
menyalinnya, menuliskannya di udara, dan menyalinnya tanpa melihat
contoh.Akhirnya guru berkata, “Tulis huruf yang mnghasilkan bunyi.....”.[26]
c)
Metode Analisis Glass
Metode analisis glass merupakan suatu metode
pengajaran melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata.
Menurut Mulyono seperti dikutip oleh Lerner, Glass
mengemukakan adanya empat langkah dalam mngajarkan kata, yaitu:
(1)
Mengidentifikasi keseluruhan kata,
huruf dan bunyi kelompok-kelompok huruf
(2)
Mengucapkan bunyi-kelompok huruf
dan huruf
(3)
Menyajikan kepada anak, huruf atau
kelompok huruf dan meminta untuk mengucapkannya
(4)
Guru mengambil beberapa huruf pada
kata tertulis dan ana diminta mengucapkan kelompok huruf yang masih tersisa.
2)
Metode Modifikasi Abjad
Metode ini telah banyak dipakai untuk anak
berkesulitan membaca pada bahasa yang kaitan antara huruf dan bunyinya tidak
selalu konsisiten. Misal kata “enough”, dapat ditulis “inaf”, kata “phone” akan
tertulis “fon”.
Dari kasus yang muncul dilapangan anak sering
mengalami kesulitandalam menggunakan huruf /ny/ dan /ng/, serta huruf yang
sering dibaca tidak sempurna seperti u (dalam kata “untuk”) dan o (dalam kata
“pohon”).
Berikut contoh bacaan yang dimodifikasi:
Tulisan baku
|
Modifikasi
|
Naik-naik ke
puncak gunung
Tinggi-tinggi
sekali
Kiri kanan
kulihat nyata
Banyak pohon
cemara
|
Naek-naek ke
puncak guno9
Ti9gi-ti9gi sekali
Kiri kana
kulihat 3nyata
Ba3ak pohon
cemara
|
Catatan:
Bunyi /e/=e
Bunyi/ng/=9
Bunyi/ny/=3
Bunyi/o/=o
Bunyi/o/=o[27]
Metode ini mendorong anak berkesulitan membaca dapat membaca dengan lebih
lancar dan motifasi belajarpun culup tinggi. Tapi kelamahandari metode ini guru
harus membuat sendiri materi pelajaran membaca dan disaming itu banyak anak
yang mengalami kesulitan dalam berpindah keejaan yang umum, karenaterlalu
terbiasa dengan abjad yang dimodifikasi.
3)
Metode Kesan Neurologis
Metode kesan neurologis terdiri atas kegiatan membaca
bersama-sama secara cepat antara guru dan murid. Dengan asumsi anak dapat
belajar mendengar suaranya sendiri dan suara orang lain.[28]
Kelebihannya adalah kemajuan dalam hal ekspresi lisan,
kelancaran membaca, dan peningkatan percaya diri dapat diamati, namun kemajuan
yang diperoleh anak dalam pemahaman tidak banyak.
b.
Disgrafia
Menulis merupakan bagian integral dari sebuah koridor
pembelajaran. Menulis adalah salah satu media komunikasi antar sesama. Sehingga
belajar menulis sangat ditekankan bagi anak sedini mungkin. Mengingat
pentingnya belajar bagi ummat manusia, maka Allah telah bersumpah atas nama salah satu sarana ilmu yakni: qalam
alias pena. Allah Swt. berfirman:
úc 4 ÉOn=s)ø9$#ur $tBur tbrãäÜó¡o ÇÊÈ !$tB |MRr& ÏpyJ÷èÏZÎ/ y7În/u 5bqãZôfyJÎ/ ÇËÈ ¨bÎ)ur y7s9 #·ô_V{ uöxî 5bqãZôJtB ÇÌÈ y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
“Nun, Demi qalam dan apa yang mereka tulis. Berkat
nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi
kamu benar-benar pahala besar yang tiada
putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung,” (QS.
Al-Qalam: 1-4)[29]
Menulis bukan
hanya menyalin tetapi juga mengekspresikan pikiran dan perasaan ke dalam
lambang-lambang tulisan. Kegunaan kemampuan menulis bagi para siswa adalah
menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Tanpa
memiliki kemampuan untuk menulis, siswa akan banyak mengalami kesulitan dalam
melaksanakan ketiga jenis tugas tersebut. Oleh karena itu, menulis harus
diajarkan pada saat anak mulai masuk sekolah dasar dan kesulitan belajar
menulis harus memeperoleh perhatian yang cukup dari para guru.
Banyak orang
yang lebih menyukai membaca dari pada menulis karena menulis dirasakan lebih
lebih lambat dan lebih sulit. Meskipun demikian, kemampuan menulis sangat
sangat diperlukan baik dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat. Para
siswa memerlukan kemampuan menulis untuk menyalin, mencatat, atau untuk
menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Dalam kehidupan masyarakat orang
memerlukan kemempuan menulis untuk keperluan berkirim surat, mengisi formulir,
atau membuat catatan.
Ada banyak
definisi tentang menulis. Menurut Lerner sebagaimana di kutip
oleh Mulyono mengemukakan bahwa menulis adalah menuangkan ide ke dalam
suatu bentuk visual. Soemarmo Markam menjelaskan bahwa menulis adalah
mengungkapkan bahasa dalam bentuk
gambar. Menulis adalah suatu suatu aktifitas kompleks, yang mencakup gerakan
tangan, jari, dan mata secara terintegrasi. Menulis juga terkait dengan
pemahaman bahasa dan kemampuan berbicara. Tarigan menambahkan bahwa bahwa
menulis sebagai melukiskan lambang-lambang grafis dari bahasa yang di pahami
oleh penulisnya maupun orang-orang lain yang menggunakan bahasa yang sama
dengan penulis tersebut.[30]
Dari beberapa
definisi tentang menulis yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa:
1) Menulis merupakan salah
satu komponen sistem komunikasi
2) Menulis adalah
menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa
grafis; dan
3)
Menulis dilakukan untuk keperluan mencatat dan komunikasi.
Maka dari itu,
sejak awal masuk sekolah anak harus belajar menulis tangan karena kemempuan ini merupakan prasyarat bagi
upaya belajar berbagai bidang studi yang lain. Kesulitan menulis dengan tangan
tidak hanya menimbulkan masalah bagi anak tetapi juga guru. tulisan yang tidak
jelas misalnya, baik anak maupun guru
tidak dapat membaca tulisan tersebut.
Menurut Jordan sebagaimana di kutip Hallahan,
Kauffman, Lloyd, kesulitan belajar menulis sering disebut juga disgrafia (dysgraphia).
Kesuliatan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Sehingga
disgrafia menunjuk pada adanya ketidakmampuan mengingat cara membuat huruf atau
simbol-simbol matematika.[31]Disgrafia
sering dikaitkan dengan kesulitan belajar membaca atau disleksia, karena kedua
jenis kesulitan tersebut sesungguhnya saling terkait.
Menurut Lerner sebagaimana di kutip oleh Mulyono, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk menulis, (1) motorik, (2)
perilaku, (3) persepsi, (4) memori, (5) kemampuan melaksanakan cross modal, (6)
penggunaan tangan yang dominan, dan (7) kemampuan memahami instruksi.[32]
Menurut pendapat diatas gejala tersebut pada dasarnya
sangat terkait dengan disleksia.
Menurut Munawir Yusuf et. al. Kesalahan yang
dibuat oleh anak dalam proses assessment (penafsiran atau penetapan),
guru dapat mengembangkan tujuan interaksional khusus (TIK) kepada anak yang
bersangkutan. Selanjutnya strategi pembinaanya dapat dikelompokkan menjadi
empat tahap yaitu: (1) tahap kesiapan (pengendalian otot, koordinasi mata
tangan, dan diskriminasi visual) diskriminasi visual dapat dikembangkan melalui
latihan membedakan berbagai bentuk, ukuran, dan warna, (2) tahap berikutnya
yakni menulis huruf balok, (3) tahap transisi (masa pembedaan tulisan balok
pada tulisan bersambung), (4)dan menulis bersambung (hand writing)[33]
Dari pendapat diatas jelas bahwa seorang guru dalam
menanamkan ketrampilan menulis perlu adanya identifikasi pada setiap siswa yang
mengalami kesulitan menulis, kemudian di perlukan latihan-latihan
berulang-ulang, atau menyalin huruf-huruf sebagaimana yang dicontohkan dengan
prosedur diatas.
c.
Diskalkulia
Diskalkulia adalah ketidakmampuan seorang anak
atau siswa dalam belajar berhitung (matematika), [34]
kesulitan belajar berhitung yang berat sering disbut akalkulia.[35]
Sedangkan menurut Mulyono Abdurrahman kesulitan
belajar matematika lebih di dekatkan pada istilah disleksia karena berisi
tentang pemahaman dalam membaca simbol-simbol matematika praktis.
Digambarkannya pula karakteristik anak berkesulitan belajar berhitung,
diantaranya: (1) gangguan memahami keruangan, (2) abnormalitas persepsi visual,
(3) gangguan assosiasi visual-motor, (4) perseverasi (perhatian anak
yang melekat pada satu obyek saja), (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol,
(6) gangguan penghayatan tubuh (body image), (7) kesulitan dalam bahasa
dan membaca, (8) sekor PIQ (Performance Intellegence Quotient) jauh
lebih rendah dari pada sekor VIQ (Verbal Intellegence Quotation).[36]
Salah satu strategi mengatasi kesulitan belajar
berhitung/Matematika (dyscalculia) menurut Mulyono pengajaran remedial
metematika, yaitu: (1) perlunya menyiapkan anak untuk belajar metematika, (2)
mulai dari yang konkret ke yang abstrak, (3) kesempatan untuk berlatih dan
mengulang yang cukup, (4) generalisasi ke berbagai situasi baru, (5) bertolak
dari kekuatan dan kelemahan siswa,(6) perlunya membangun fondasi yang kuat
tentang konsep dan ketrampilan matematika, (7) penyediaan program matematika
yang seimbang, dan (8) penggunaan kalkulator untuk menanamkan penalaran
matematika.[37]
d.
Disfasia
Kemampuan berbahasa menjadikan manusia unggul atas
makhluk lain. Hal ini dikarenakan apabila seseorang mampu menguasai semua
bentuk ekspresi bahasa dengan baik dan benar maka dia akan mudah berkomunikasi
dengan orang lain. Sehingga orang yang demikian akan mempunyai tempat di mata
orang lain dengan membawa kharisma dan
kewibawaan. Orang yang demikian selalu menempatkan bahasa sebagai wujud norma
kesopanan.
Menurut Lerner bahasa merupakan suatu sistem komunikasi
yang terintegrasi, mencakup bahasa ujaran, membaca, dan menulis.[38]
Adapun ekspresi bahasa wicara (ujaran) mencakup enam
komponen, yaitu: fonem, morfem, sintaksis, semantik, prosodi (intonasi), dan
pragmatik.[39]
Fonem adalah adalah satuan bunyi terkecil yang mampu
menunjukkan kontras makna, misal fonem yang membedakan makna antara harus
dan arus, bara dan para.[40]
Morfem adalah satuan terkecil dari bahasa yang yang
mengandung makna. Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya empat morfem terikat,
seperti: refiks atau awalan (misal ber, me,), infiks atau sisipan
(misal el, em, er), surfiks atau akhiran (misal: kan, an), dan konfiks
yang merupakan gabungan dari dua tiga morfem terikat yang lain. morfem
bebas atau mofem dasar dalam bahasa Indonesia juga kata dasar; sedangkan morfem
terikat disebut imbuhan. Dengan demikian, morfem adalah suatu kesatuan yang
ikut serta dalam pembentukan kata yang dapat dibedakan artinya. Contoh dari
kata dasar “jalan” jika diberi awalan
“per” dan akhiran “an” sehingga menjadi “perjalanan”
Sintaksis menurut Lovitt sebagaimana dikutip oleh
Mulyono adalah berkenaan dengan tata bahasa, yaitu bagaimana kata-kata disusun
untuk membentuk kalimat. Sedangkan
menurut Keraf, sintaksis membicarakan frasa, klausa, dan kalimat. Frasa adalah
suatu konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan. Kesatuan tersebut membentuk
makana baru yang memebentuk sebelumnya tidak ada. Contoh frasa adalah “rumah
makan”, makna yang baru muncul adalah menunjukkan “tempat”. Klausa merupakan
suatu konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung
hubungan fungsional, yang dalam tata bahasa lama dikenal dengan pengertian
subyek, predikat, obyek, dan keterangan. Suatu klausa sekurang-kurangnya harus
mengandung satu obyek, satu predikat, dan secara fakultatif satu obyek. dalam
keadaan klausa terdiri dari satu
predikat dan boleh dengan keterangan. Contoh satu klausa adalah “Ibu menanak
nasi”, dan contoh dua klausa adalah “ketika Ibu menanak nasi, adik menggambar
gelas di dekatnya.”[41]
Semantik sebagaimana dijelaskan dalam kamus besar
bahasa Indonesia merupakan ilmu tentang
makna kata dalam kalimat yang di dalamnya berisi pengetahuan mengenai
seluk-beluk dan pergeseran arti kata. Semantik juga merupakan bagian struktur
bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna atau wicara.[42]
Keraf sebagaimana dikutip Mulyono menjelaskan bahwa suatu kalimat disebut
sempurna jika dalam rentetan arus ujaran telah tercakup petimbangan struktur
segmental dan struktur suprasegmental. Struktur segmental adalah adanya subyek,
predikat, dan obyek. sedangkan struktur suprasegmental adalah intonasi. Dengan
demikian dapat dirumuskan sebagai berikut:
4)
Kalimat yang merupakan gabungan
kata dan intonasi, misalnya: “Pergi!” (maksudnya menyuruh pergi) atau maling
“Maling!” (artinya memberitahukan ada maling).
5)
Kalimat yang merupakan gabungan
frasa dan intonasi, misalnya: “Bapak menulis surat”.
Prosodi berkenaan dengan penggunaan irama yang layak,
intonasi, dan tekanan pola-pola bahasa. Menurut Lovitt sebagaiman di kutip oleh
Mulyono bahwa prosodi memiliki fungsi yang sama dengan penggunaan tanda baca
dalam bahasa tulis. Sedangkan Nicolosi et. al., berpendapat bahwa prosodi
merupakan sifat fisik wicara yang menandai kualitas wicara. Oleh kerena itu,
prosodi sring disebut juga dengan melodi
wicara. Pengertian tekanan dan intonasi meliputi dasar-dasar frekuensi suara, perubahan
intensitas, nada, kualitas, dan durasinya.
Pragmatik berkenaan dengan cara menggunakan bahasa
dalam situasi sosial yang sesuai. Dalam kehidupan sehari-hari, orang akan
mengubah cara mereka berbicara sesuai dengan yang diajak bicara, tujuan bicara,
dan berbagai faktor lainnya. Pada saat berbicara dengan orang yang lebih tua akan menggunakan
cara yang berbeda dengan orang yang lebih muda; begitu pula cara berbicara
antara atasan dan bawahan.[43]
Menurut Munawir Yusuf et. al. disfasia adalah
ketidakmampuan atau keterbatasan kemampuan anak menggunakan simbol
linguistik dalam rangka berkomunikasi secara verbal. Sedangkan bicara adalah
bahasa verbal yang memiliki komponen artikulasi, suara, dan kelancaran. [44]
Disfasia ada dua jenis, yaitu disfasia reseptif dan
disfasia ekspresif. Pada disfasia reseptif anak mengalami gangguan
pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak-anak dapat mendengar kata-kata yang
diucapkan tetapi tidak mengerti. Pada disfasia ekspresif, anak tidak
mengalami gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata
secara verbal. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada
kemampuan membaca dan menulis.[45]
Dalam hal ini perlu adanya pendekatan yakni pengajaran
remediasi. Diantaranya:
1)
Pendekatan Analisis Tugas
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kompleksitas pengertian (semantik),
struktur (morfologi dan sintaksis), atau fungsi (pragmatik) bahasa anak-anak.
Pendekatan ini menekankan pada arti kata, konsep bahasa, dan memperkuat
kemampuan berfikir logis.
2)
Pendekatan Perilaku
Pendekatan ini bertujuan untuk memodifikasi atau merubah bahasa lahir dan
perilaku komunikasi.
3)
Pendekatan Interaktif-Interpersonal
Secara umum bertujuan memperkuat kemampuan pragmatik dan mengembangkan
kompetensi komunikasi. Adapun tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan
pengambilan peran anak-anak dalam berkomunkasi.
4)
Pendekatan Sistem Lingkungan Total
Bertujuan untuk menciptakan peristiwa atau situasi
lingkungan yang kondusif sehingga dengan demikian mendorong terjadinya
peningkatan frekuensi berbahasa dan pengalaman berkomunikasi pada anak-anak.[46]
Dari beberapa uraian di atas dan berbagai pendapat
dari para pakar, maka dapat digaris bawahi bahwa dalam menyikapi anak
berkesulitan belajar diperlukan langkah-langkah yang pertama: mengadakan
observasi dan mendiagnosis gejala yang muncul dilapangan kemudian menentukan
(asesmen) penyebab kesulitan, baik yang bersifat umum maupun khusus, serta
alternatif strategi pengajaran
remedial yang efektif dan efisien. Dan remedial hendaknya dilaksanakan oleh
guru khusus yang memiliki keahlian dalam bidang pendidikan bagi anak
berkesulitan belajar.
[1] Zakiyah Darajat, Kesehatan
Mental, Jakarta: Gunung Agung. 1979. hlm. 71
[2] Abin Syamsudin Makmun, Psikologi
Kependidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2003. hlm. 3007
[4] Muhibbin Syah, Op-Cit,
hlm. 175-178
[5] Ibid, hlm. 173
[6] Moelyono Abdurrahman,
Op-Cit. hlm. 170
[7] Ibid, hlm.172-173
[8] Ibid, hlm. 179
[9] Dep. P dan K, Op-Cit.hlm298
[10] Ibid, hlm. 1063
[11] Ibid
[12] Muhibbin Syah, Op-Cit,
hlm. 173
[13] Munawir Yusuf, Op-Cit.
Hlm. 25-26
[14] Ibid, hlm. 26-27
[15] Dr. Abdul Aziz Asy
Syakhs, (lihat penyebab dari keluarga) Loc-Cit. Hlm. 38-39
[16] Muhibbin Syah, Loc-Cit,
hlm. 173
[17] Zakiyah Darat,Op-Cit,
hlm.114
[18] Zakiyah Darajat, Loc-Cit.
Hal. 71
[19] Ibid, hlm. 73
[20] Muhibbin syah, 173
[21] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 204
[22] Ibid, hlm. 220
[23] Ibid, hlm. 219
[24] Munawir Yusuf, hlm. 97-99
[26] Ibid, hlm. 97
[27] Ibid, hlm. 98 99
[28] Ibid, hlm.100
[29] Mahmud Yunus, Op-Cit. hlm.
509
[30] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 223-224
[31] Ibid, hlm. 227-228
[32] Ibid, 227
[33] Munawir Yusuf, Op-Cit.
Hlm. 111-116
[34] Muhibbin Syah, op-cit.
Hlm. 174
[35] Munawir Yusuf et. al., Op-cit.hlm.
130
[36] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 280
[37] Ibid, hlm. 280
[38] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 183
[39] Munawir Yusuf et. al., Op-cit.hlm.
15
[40] Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op-Cit. hlm. 319
[41] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 184
[42] Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op-Cit. hlm. 1025
[43] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 185
[44] Munawir Yusuf et. al., Op-cit.hlm.
13
[45] Munawir Yusuf et. al., Op-cit.hlm.
18
[46] Mulyono Abdurrahman, Op-Cit,
hlm 197

Komentar
Posting Komentar